Sabtu, 05 September 2020

PENTINGNYA ZAT BESI UNTUK MEMPERTAHANKAN KONSENTRASI BELAJAR ANAK

 

      

 

 

 

Disusun Oleh:

1.     Anggraini Hilda Contheza    (04)

2.     Annisa Fitria Salsabella        (05)

3.     Devika Ghina Arterina         (16)

4.     Zenia Afifatus Soimah          (38)

 

 

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

KABUPATEN KEDIRI

UPTD SMA NEGERI 1 PARE

2016/2017


KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat, rahmat, dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan Makalah dengan judulPentingnya Zat Besi untuk Mempertahankan Konsentrasi Belajar Anakini tanpa ada halangan suatu apapun, penyusun berharap bahwa dengan terselesainya makalah ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca.

Terselesaikannya makalah ini tentu tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1.      Ibu Ambar Wulan M.Pd selaku guru pembimbing olahraga yang telah memberikan tugas serta dukungan dalam pembuatan makalah ini.

2.      Teman-teman XI Mipa 3 yang selalu memberikan doa dan kerjasama dengan baik dalam semua bidang, serta motivasi yang dapat menunjang terselesaikannya makalah ini.

Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun, demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.

 

Pare, 10 Februari 2017

 

 

Penyusun



DAFTAR ISI

 

HALAMAN MUKA….............……..…………………………………………......…i

KATA PENGANTAR…………………………………...………………………......ii

DAFTAR ISI………………………………………………………...…………........iii

BAB I PENDAHULUAN

             1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………...…………......1

             1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………......2

             1.3 Tujuan Penulisan……………………………………………………........2

             1.4 Manfaat Penulisan………………………………………………….....….2

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB III PEMBAHASAN

             3.1 Zat Besi dan Konsentrasi Belajar Anak..………………………………....4

             3.2 Penyebab Anak Mengalami Kekurangan Zat Besi....………………….5

             3.3 Penerapan Zat Besi untuk Mempertahankan Konsentrasi Belajar Anak....6

BAB IV PENUTUP

KESIMPULAN…………………………………………………………………..........9

SARAN…………………………………………………………………………..........9

DAFTAR PUSTAKA......…………………………………………………………...10


 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Prestasi belajar siswa mempunyai keterkaitan dengan konsumsi makanan sehat dan teratur untuk mendapatkan kadar hemoglobin normal. Peningkatan pendidikan dapat mengubah pola hidup dan pola makan, dari pola makan tradisional ke pola makanan praktis dan siap saji yang dapat menimbulkan mutu gizi yang tidak seimbang (Sudjanah, 2002).

Perubahan inilah yang menyebabkan tubuh mengalami perombakan kebiasaan. Pola makan yang buruk juga berdampak pada kekebalan tubuh dan juga konsentrasi belajar anak. Beberapa dampak dari pola makan tidak sehat seseorang adalah berkurangnya kadar zat besi di dalam tubuh. Di mana, zat besi merupakan zat yang sangat berguna untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak, terutama pada usia produktif seperti remaja.

Pengaruh defisiensi besi (Fe) terutama melalui kondisi gangguan fungsi hemoglobin yang merupakan alat transport O2 yang diperlukan banyak reaksi metabolisme tubuh. Dikatakan bahwa pada kondisi anemia daya konsentrasi belajar tampak menurun. Bukti yang tersedia menunjukkan gangguan pada perkembangan mental dan kemampuan intelektual, serta perubahan tingkah laku siswa. Dampak rendahnya status besi (Fe) dapat mengakibatkan anemia dengan wajah pucat, lesu, sesak nafas, dan kadang nafsu makan pun terganggu.

            World Health Organization (2011) menyebutkan anemia adalah suatu kondisi jumlah sel darah merah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan fisiologi tubuh. Penyebab anemia umumnya karena kekurangan zat besi, kekurangan asam folat, vitamin B12 dan vitamin A. Peradangan akut dan kronis, infeksi parasit, kelainan bawaan yang mempengaruhi sintesis hemoglobin, kekurangan produksi sel darah merah dapat menyebabkan anemia. Masalah anemia yaitu kekurangan zat besi (Fe).

            Berdasarkan survei penelitian pendahuluan dari berbagai sumber, kami tertarik untuk membahas pentingnya zat besi untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak karena zat besi memiliki pengaruh serius pada konsentrasi belajar anak.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa hubungan zat besi dan konsentrasi belajar anak?

2. Mengapa anak pada masa pertumbuhan mengalami kekurangan zat besi?

3. Bagaimana penerapan zat besi untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak?

1.3 Tujuan

            Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1. Mendeskripsikan kebutuhan zat besi pada tubuh dan penyebab menurun-nya konsentrasi belajar anak.

2. Menjelaskan pentingnya zat besi untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak.

1.4 Manfaat

      Manfaat penulisan ini adalah :

1. Bagi Penulis

Memberikan pengalaman bagi penulis untuk meningkatkan kebutuhan zat besi bagi tubuh agar tetap terjaga konsentrasi belajarnya.

      2. Bagi Masyarakat

Memberikan pengalaman bagi masyarakat untuk melibatkan peran keluarga dalam pengenalan pentingnya zat besi untuk mempertahankan konsentrasi belajar pada anak.

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Dalam proses belajar anak berupaya untuk mengerti sesuatu hal baru. Memerlukan konsentrasi, memusatkan pikiran terhadap suatu hal yang diperoleh selama proses belajar berlangsung. Apabila anak tidak berkonsentrasi dalam belajar maka akan sulit menerima suatu informasi, dan juga sebaliknya apabila anak dapat berkonsentrasi maka daya serap anak akan lebih mudah dalam menangkap suatu informasi.

Menurut Fadila Suralaga dkk, konsentrasi merupakan syarat mutlak dalam proses belajar. Manusia tidak akan mampu mempelajari sesuatu kalau ia tidak berkonsentrasi untuk mendapatkannya.

Namun, terkadang anak sulit untuk dapat berkonsentrasi karena ada berbagai penyebab  terganggunya konsentrasi pada anak, salah satunya ialah rasa lapar. Anak dalam masa pertumbuhan memerlukan asupan gizi yang lebih banyak daripada orang dewasa. Menurut pendapat Ari Agung, (2002) Tanpa ada gizi, energi tidak bisa dihasilkan oleh tubuh, dikarenakan sel-sel kita tidak memperoleh makanan. Dan tentu saja, seseorang akan loyo dan merasa malas bekerja. Sekalipun seseorang memiliki kebiasaan malas, namun kurangnya gizi merupakan penyebab utama.

Anemia merupakan berkurangnya simpanan gizi zat besi yang disebabkan menurunnya kadar hemoglobin dalam tubuh. Karena itu anemia didefisiensi pada anak-anak dapat menggangu kemampuan belajar mereka di sekolah. Menurut Deddy Muchtadi (2001) fungsi utama zat besi bagi tubuh adalah membawa oksigen dan karbondioksida dalam darah, serta untuk pembentukan darah (hemoglobin). Fungsi lainnya antara lain sebagai bagian dari enzim, untuk produksi antibodi, dan untuk penghilangan (detoksifikasi) zat racun di dalam hati.

Kekurangan zat besi  terutama  menyerang  golongan rentan,  seperti  anak-anak,  remaja,  ibu hamil,  serta  pekerja  berpenghasilan rendah.  Secara  klasik  defisiensi dikaitkan  dengan  anemia  gizi  besi. Namun sejak 25 tahun terakhir banyak bukti  menunjukkan  bahwa  defisiensi besi  berpengaruh  luas  terhadap kemampuan  belajar  dan  produktivitas kerja (Almatsier, 2002).

Dikatakan  bahwa  pada kondisi  anemia  daya  konsentrasi  dalam belajar  tampak  menurun  (Sediaoetama, 2010).  Anemia  karena  defisiensi  zat  besi pada  anak-anak  akan  mengganggu kemampuan belajar mereka disekolah. (Gibney dkk,  2009).  Kekurangan  zat  besi  pada  anak juga dapat menyebabkan penurunan nilai tes psikologi,  tes  konsentrasi,  mengurangi kemampuan belajar konsep dan menurunkan daya ingat. Pada anak-anak  kekurangan besi menimbulkan  apatis,  mudah  tersinggung, menurunnya  kemampuan  untuk berkonsentrasi dan belajar (Almatsier, 2009).

Zat besi berperan dalam perkembangan psikomotor anak. Kekurangan zat besi berpengaruh terhadap fungsi otak, terutama terhadap fungsi sistem neurotransmitter (pengantar saraf), kerusakan struktur myelin, dan mengurangi metabolisme energi di otak. Akibatnya, kepekaan reseptor saraf dopamin berkurang yang dapat berakhir dengan hilangnya reseptor tersebut. Daya konsentrasi, daya ingat dan kemampuan belajar terganggu, ambang batas rasa sakit meningkat, fungsi kelenjar tiroid dan kemampuan mengatur suhu tubuh menurun (Lozoff dan Youdim, 1988 dalam Almatsier, 2002). Kondisi tersebut berkaitan dengan proses pengaktifan enzim Mono Amin Oksidase (MAO). Zat besi (Fe) diperlukan sebagai kofaktor untuk mengaktifkan enzim Mono Amin Oksidse (MAO) diotak yang berperan untuk daya konsentrasi.

Apabila zat besi  dalam  tubuh  tidak  seimbang  atau kurang, maka kadar hemoglobin dalam darah akan  berkurang  (Notoatmodjo,  2007). Semakin  rendah  asupan  zat  besi,  semakin rendah  juga  kadar  hemoglobin  dalam  darah. Kadar hemoglobin normal adalah kurang lebih 13,8 g/dL yang mencerminkan tidak akan terjadi anemia. Hal ini terjadi jika konsumsi zat besi terpenuhi  yang  membuat  produksi  sel  darah merah  meningkat.

Kandungan zat besi dalam tubuh sangat berguna untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak. Perlu diingat bahwa kebutuhan zat besi anak juga berbeda-beda. Bisa dilihat dari umur dan juga jenis kelamin anak.

 

 

Ambang batas kadar Hb pada zat besi yang dikonsumsi anak adalah :

Tabel 1. Batasan normal kadar Hb

Kelompok Umur 

Hb

Anak 6-59 bulan

11 g/dL

Anak 5-11 tahun

11,5 g/dL

Anak 12-14 tahun

12 g/dL

Wanita umur > 15 th

12 g/dL

Wanita hamil

11 g/dL

Laki-laki umur >15 th

13 g/dL

Sumber : WHO,2001

Bank dunia  menyatakan  bahwa,  anemia  gizi besi  pada  anak  usia  sekolah menyebabkan  hilangnya  5-10% prestasi  belajar.  Penanggulangan anemia gizi besi jangka pendek adalah dengan pemberian  suplementasi  besi. Pemberian  suplementasi  besi  yang dikombinasikan  dengan  vitamin  A lebih  efektif  dalam  menaikkan  kadar Hb.  Vitamin  A  berperan  dalam hemopoesis  (pembentukan  sel  darah merah).

Beberapa jenis makanan yang mengandung zat besi :

Jenis Makanan

Kandungan Zat Besi (mg)

Kacang tanah :

            Terkelupas (dengan selaput)

            Rebus (dengan selaput)

            Sangan (tanpa selaput)

            Selai kacang

            Bungkil kacang tanah

 

1,3

1,4

1,9

2

30,7

Kacang Hijau

6,7

Touge Kacang Hijau

0,8

Kedelai

11

Tempe

9

Tahu

1,7

Kacang Merah

5

100gr Asam Jawa

2,8

Susu Kedelai

1,2

Susu Sapi

0,1

Sumber : Dalam buku Sehat Dengan Hidangan Kacang dan Biji-bijian karya Prof. Dr. Ir, Made Astawan, MS. 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Zat besi dan Konsentrasi Belajar Anak

            Anak sekolah berada pada masa pertumbuhan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk menunjang kehidupannya di masa depan. Guna mendukung keadaan tersebut, anak sekolah memerlukan kondisi tubuh yang optimal dan bugar sehingga memerlukan status gizi yang baik (Ditjen Bina Kesehatan Direktorat Gizi Masyarakat, 2011 dalam Taufiqurrahman, 2003). Mengingat kualitas pendidikan di Indonesia menduduki posisi paling rendah dari 12 negara di Asia.

Faktor internal mempengaruhi kemampuan siswa dalam belajar. Pada saat belajar otak melakukan serangkaian proses, yaitu penangkapan signal materi, pemahaman dan penyaluran untuk merekam memori yang baru saja terjadi. Dari serangkaian proses tersebut, menyangkut pada bagaimana prestasi siswa dapat terbentuk.

Sadirman pada tahun 2007 mengungkapkan bahwa prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu dengan baik berupa perubahan tingkah laku, ketrampilan dan pengetahuan. Kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka dan pernyataan.

Prestasi belajar siswa mempunyai keterkaitan dengan konsumsi makanan sehat dan teratur untuk mendapatkan kadar hemoglobin normal. Peningkatan pendidikan dapat mengubah pola hidup dan pola makan, dari pola makan tradisional ke pola makanan praktis dan siap saji yang dapat menimbulkan mutu gizi yang tidak seimbang (Sudjanah, 2002).

Hemoglobin adalah suatu senyawa protein dengan besi (Fe) yang dinamakan konjugasi protein. Warna darah merah disebabkan karena adanya besi (Fe). Oleh karena itu hemoglobin dinamakan juga zat warna merah. Fungsi hemoglobin diantaranya mampu mengikat dan membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh, mengikat dan membawa karbohidrat dari seluruh jaringan tubuh ke paru-paru, memberi warna merah pada darah, dan mempertahankan keseimbangan asam-basa dari tubuh (Sadikin, 2006).

Pengaruh kekurangan besi (Fe) terutama melalui kondisi gangguan fungsi hemoglobin yang merupakan alat transport O2 yang diperlukan banyak reaksi metabolisme tubuh. Dikatakan bahwa pada kondisi anemia, daya konsentrasi belajar tampak menurun. Bukti yang tersedia menunjukkan gangguan pada perkembangan mental dan kemampuan intelektual, serta perubahan tingkah laku siswa.

Rendahnya kadar zat besi pada manusia menyebabkan masalah kesehatan yang berdampak pada kualitas hidup seseorang. Kejadian anemia pada siswa di sekolah dapat mempengaruhi prestasi belajar, dengan diperkuat bahwa selama jam  pelajaran  di  kelas  siswa  mengaku  sering  tidak dapat  konsentrasi  belajar dan sering mengantuk. Siswa yang mengalami anemia akan mengalami penurunan konsentrasi belajar sehingga mempengaruhi nilai pelajaran di sekolah.

2.2 Penyebab Anak Mengalami Kekurangan Zat Besi

            Zat dalam tubuh terdiri dari dua bagian, yaitu fungsional dan reverse (simpanan). Zat besi yang fungsional sebagian besar adalah dalam bentuk hemoglobin (Hb), sebagain kecil dalam bentuk myoglobin, dan jumlah yang sangat kecil adalah adanya enzim dan non enzim. Bila tubuh kekurangan Fe, penyebaran Fe non enzim dapat meningkat sepuluh kali dan penyebaran Fe enzim meningkat sampai dua kali (Marizal, 2007).

            Menurut Gibson tahun 2005 Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar Hemoglobin ialah :

1. Jenis Kelamin

Laki-laki memiliki kadar hemoglobin lebih tinggi daripada wanita, karena masa otot pria relatif lebih besar daripada wanita. Wanita mengalami menstruasi, hal ini menyebabkan banyak darah keluar dan menjadi faktor kadar hemoglobin lebih rendah.

2. Ketinggian daratan

Semakin tinggi daratan, semakin tinggi pula kadar hemoglobinnya. Sebab semakin tinggi dataran semakin rendah oksigen.

3. Trauma

Trauma dengan luka pendarahan akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar substrat maupun aktivitas enzim. Hal ini disebabkan karena terjadinya pemindahan cairan tubuh ke dalam pembuluh darah sehingga mengakibatkan terjadinya pengenceran darah, maka kadar hemoglobinnya turun.

4. Umur

Umur berpengaruh terhadap kadar dan aktivitas zat dalam darah.

5. Kehamilan

Penyebab perubahan kadar besi dan feritin dapat disebabkan karena induksi oleh kehamilan, peningkatan protein transport, hemodilusi, volume tubuh yang meningkat karena peningkatan kebutuhan atau peningkatan protein fase akut.

Dengan begitu, dapat diketahui bahwa anemia atau seseorang yang memiliki kadar hemoglobin rendah bukan hanya disebabkan oleh konsumsi protein dan zat besi di dalam tubuh kurang namun juga dipengaruhi oleh faktor lain dan zat penghambat absorbsi zat besi dalam tubuh, maka kadar hemoglobin dalam darah juga berkurang.

 

 

3.3 Penerapan Zat Besi untuk Mempertahankan Konsentrasi Belajar Anak

            Dari penjelasan di atas, kita dapat mengetahui bahwa zat besi sangat berguna untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak. Tapi hal yang harus diketahui pertama adalah bahwa kebutuhan zat besi tiap anak berbeda-beda.

Ambang batas kadar Hb pada zat besi yang dikonsumsi anak adalah :

Tabel 1. Batasan normal kadar Hb

Kelompok Umur 

Hb

Anak 6-59 bulan

11 g/dL

Anak 5-11 tahun

11,5 g/dL

Anak 12-14 tahun

12 g/dL

Wanita umur > 15 th

12 g/dL

Wanita hamil

11 g/dL

Laki-laki umur >15 th

13 g/dL

Sumber: WHO, 2001

            Dari analisis yang dilakukan oleh WHO tahun 2001 dapat diketahui seberapa besar hemoglobin yang dibutuhkan seseorang berdasarkan usia. Pemenuhan kadar hemoglobin di dalam tubuh dapat diperoleh dengan cara mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, seperti :

Jenis Makanan

Kandungan Zat Besi (mg)

Kacang tanah :

            Terkelupas (dengan selaput)

            Rebus (dengan selaput)

           Sangan (tanpa selaput)

           Selai kacang

            Bungkil kacang tanah

 

1,3

1,4

1,9

2

30,7

Kacang Hijau

6,7

Touge Kacang Hijau

0,8

Kedelai

11

Tempe

9

Tahu

1,7

Kacang Merah

5

100gr Asam Jawa

2,8

Susu Kedelai

1,2

Susu Sapi

0,1

Sumber : Dalam buku Sehat Dengan Hidangan Kacang dan Biji-bijian karya Prof. Dr. Ir, Made Astawan, MS.

            Tercukupinya kadar hemoglobin membuat kadar zat besi dalam tubuh juga akan terpenuhi karena kadar hemoglobin berbanding lurus dengan kadar zat besi. Jika kadar zat besi dalam tubuh terpenuhi, maka konsentrasi belajar pada anak dapat dipertahankan.

            Setelah mengetahui kadar Hb yang diperlukan dan makanan apa saja yang mengandung kadar zat besi, menerapkan pola makan yang seimbang dengan kadar zat besi yang cukup adalah langkah selanjutnya untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak.

            Ada beberapa faktor yang menyebabkan terganggunya konsentrasi, seperti rasa kantuk dan lapar.

1.        Rasa kantuk

Saat belajar, rasa kantuk terjadi akibat kurangnya oksigen pada otak yang berkaitan dengan kurangnya kadar Hb dalam darah. Hal ini sering terjadi karena kurang mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat besi tinggi seperti daging merah, ayam, telur, kacang-kacangan dan sayuran hijau.

2.        Rasa lapar

Rasa lapar saat belajar di sekolah erat kaitannya dengan sarapan. Bagi anak sekolah meninggalkan sarapan membawa dampak buruk. Ir Satria mengungkapkan, Konsentrasi biasanya buyar karena tidak tercukupinya zat gizi. Akibatnya lambung akan mengalami kekosongnan 10-11 jam (dihitung dari saat ia tidur malam). Tak heran anak akan merasa sangat lapar saat jam 09.00-10.00, yang akhirnya kadar Hb dalam darah menurun dan anak akan hilang konsentrasi. 

     Dari faktor-faktor diatas solusi yang tepat adalah sebelum sekolah biasakan anak untuk sarapan. Menu sarapan untuk anak hendaknya diperhatikan kecukupan dan keseimbangan gizinya (dr. Leane, M.Sc.). Usahakan sarapan dengan mengkonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna. Dengan makanan yang engandung karbohidrat, pretin, lemak, vitamin, dan mineral.

 Salah satu mineral yang harus ada adalah zat besi, yaitu dengan mengonnsumsi makanan yang terdiri dari sayur, daging merah atau lauk dari kacang-kacangan seperti tempe dan tahu, serta selalu minum susu. Dengan mengonsumsi makanan yang kaya zat besi pada saat sarapan, konsentrasi belajar anak disekolah akan bertahan. Proses belajarpun tidak akan terganggu dan prestasi belajar anak akan lebih baik.

           


BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

            Berdasarkan paparan analisa masalah diatas, diperoleh beberapa kesimpulan yaitu

1. Rendahnya kadar zat besi pada anak akan mengakibatkan konsentrasi belajar anak menurun.

2. Zat besi banyak terkandung dalam hemoglobin. Dengan begitu, saat masa pertumbuhan anak seharusnya mempunyai kadar hemoglobin yang cukup sehingga kandungan zat besi pada anak akan cukup.

3. Untuk mencukupi kadar zat besi dalam tubuh, perlu mecukupi kadar hemoglobin dalam tubuh yaitu dengan mengonsumsi bahan makanan yang banyak mengandung banyalk zat besi.

4.2 Saran           

      Untuk mendapatkan  respon  yang optimal maka saran yang diberikan kepada masyarakat diantaranya

1. Meningkatkan kesadaran kepada masyarakat betapa pentingnya kadar hemoglobin di dalam zat besi bagi konsentrasi belajar anak.

2. Diharapkan orang tua berusaha memberikan asuapan gizi yang baik  khususnya  seperti memberikan  sayur-sayuran, memberikan  susu setiap  hari agar  anak  tidak  mengalami kekurangan  zat  besi  yang memicu terjadinya anemia.

3. Dianjurkan menerapkan hidup sehat untuk mempertahankan kadar hemoglobin di dalam zat besi tetap terpenuhi secara normal dantidak mengganggu prestasi belajar anak.


 

DAFTAR PUSTAKA

Agung, I Gusti Ayu Ari. Pengaruh Perbaikan Gizi Kesehatan Terhadap Produktivitas Kerja. Fakultas MIPA Universitas Hindu Indonesia.

Sampouw, Andreas.dkk. 2013. Hubungan antara Anemia dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas 4 dan 5 SD Sta. Theresia Malalayang. Universitas Sam Ratulangi.

Istianah. 2008. Hubungan antara Anemia dengan Prestasi Belajar Siswakelas 4 Dan 5 Sd Sta. Theresia Malalayang. Universitas Islam Negerisyarif Hidayatullah.

Widyastuti, Agnes Putri. 2014. Hubungan Kadar Hemoglobin Siswa dengan Prestasi Belajar Di Sekolah Dasar Negeri I Bentangan Wonosari Kabupaten Klaten. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mahmudiono, Trias.dkk. 2010. Hubungan Makan Pagi dan Tingkat Konsumsi Zat Gizi dengan Daya Konsentrasi Siswa Sekolah Dasar. Universitas Airlangga Surabaya.

Astawan, Made. 2009. Sehat Dengan Hidangan Kacang dan Biji-bijian. Jakarta: Penebar Swadaya.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar