PENTINGNYA
ZAT BESI UNTUK MEMPERTAHANKAN KONSENTRASI BELAJAR ANAK
Disusun Oleh:
1.
Anggraini
Hilda Contheza (04)
2.
Annisa Fitria Salsabella (05)
3.
Devika Ghina Arterina (16)
4.
Zenia Afifatus Soimah (38)
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
KABUPATEN KEDIRI
UPTD SMA NEGERI 1 PARE
2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan ke hadirat Allah SWT
karena berkat, rahmat, dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan Makalah dengan
judul “Pentingnya Zat Besi untuk Mempertahankan Konsentrasi
Belajar Anak” ini tanpa ada
halangan suatu apapun, penyusun berharap bahwa dengan terselesainya makalah ini
dapat memberi manfaat bagi para pembaca.
Terselesaikannya makalah ini tentu tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini kami ucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1.
Ibu Ambar Wulan M.Pd selaku guru pembimbing olahraga yang
telah memberikan tugas serta dukungan dalam pembuatan makalah ini.
2.
Teman-teman
XI Mipa 3 yang selalu memberikan doa dan kerjasama dengan baik dalam semua
bidang, serta motivasi yang dapat menunjang terselesaikannya makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan
dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, oleh
karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun, demi
kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.
Pare, 10 Februari
2017
Penyusun
DAFTAR ISI
|
HALAMAN
MUKA….............……..…………………………………………......…i |
|
KATA
PENGANTAR…………………………………...………………………......ii |
|
DAFTAR
ISI………………………………………………………...…………........iii |
|
BAB I
PENDAHULUAN |
|
1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………...…………......1 |
|
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………......2 |
|
1.3 Tujuan Penulisan……………………………………………………........2 |
|
1.4 Manfaat Penulisan………………………………………………….....….2 |
|
|
|
BAB III PEMBAHASAN |
|
3.1 Zat
Besi dan Konsentrasi Belajar Anak..………………………………....4 |
|
3.2 Penyebab Anak
Mengalami Kekurangan Zat Besi…....………………….5 |
|
3.3 Penerapan Zat Besi untuk
Mempertahankan Konsentrasi Belajar Anak....6 |
|
BAB IV PENUTUP |
|
KESIMPULAN…………………………………………………………………..........9 |
|
SARAN…………………………………………………………………………..........9 |
|
DAFTAR PUSTAKA......…………………………………………………………...10 |
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Prestasi belajar siswa mempunyai
keterkaitan dengan konsumsi makanan sehat dan teratur untuk mendapatkan kadar
hemoglobin normal. Peningkatan pendidikan dapat mengubah pola hidup dan pola
makan, dari pola makan tradisional ke pola makanan praktis dan siap saji yang
dapat menimbulkan mutu gizi yang tidak seimbang (Sudjanah, 2002).
Perubahan inilah yang menyebabkan tubuh
mengalami perombakan kebiasaan. Pola makan yang buruk juga berdampak pada
kekebalan tubuh dan juga konsentrasi belajar anak. Beberapa dampak dari pola
makan tidak sehat seseorang adalah berkurangnya kadar zat besi di dalam tubuh.
Di mana, zat besi merupakan zat yang sangat berguna untuk mempertahankan
konsentrasi belajar anak, terutama pada usia produktif seperti remaja.
Pengaruh defisiensi besi (Fe) terutama
melalui kondisi gangguan fungsi hemoglobin yang merupakan alat transport O2
yang diperlukan banyak reaksi metabolisme tubuh. Dikatakan bahwa pada kondisi
anemia daya konsentrasi belajar tampak menurun. Bukti yang tersedia menunjukkan
gangguan pada perkembangan mental dan kemampuan intelektual, serta perubahan
tingkah laku siswa. Dampak rendahnya status besi (Fe) dapat mengakibatkan
anemia dengan wajah pucat, lesu, sesak nafas, dan kadang nafsu makan pun
terganggu.
World Health Organization (2011)
menyebutkan anemia adalah suatu kondisi jumlah sel darah merah tidak mencukupi
untuk memenuhi kebutuhan fisiologi tubuh. Penyebab anemia umumnya karena
kekurangan zat besi, kekurangan asam folat, vitamin B12 dan vitamin A.
Peradangan akut dan kronis, infeksi parasit, kelainan bawaan yang mempengaruhi
sintesis hemoglobin, kekurangan produksi sel darah merah dapat menyebabkan
anemia. Masalah anemia yaitu kekurangan zat besi (Fe).
Berdasarkan survei penelitian
pendahuluan dari berbagai sumber, kami tertarik untuk membahas pentingnya zat
besi untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak karena zat besi memiliki
pengaruh serius pada konsentrasi belajar anak.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa hubungan zat besi dan konsentrasi belajar anak?
2. Mengapa anak pada masa pertumbuhan mengalami kekurangan zat besi?
3. Bagaimana penerapan zat besi untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mendeskripsikan kebutuhan zat besi pada tubuh dan penyebab menurun-nya konsentrasi belajar anak.
2. Menjelaskan pentingnya zat besi untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak.
1.4 Manfaat
Manfaat penulisan ini adalah :
1. Bagi Penulis
Memberikan pengalaman bagi penulis untuk meningkatkan kebutuhan zat besi bagi tubuh agar tetap terjaga konsentrasi belajarnya.
2. Bagi Masyarakat
Memberikan pengalaman bagi
masyarakat untuk melibatkan peran keluarga dalam pengenalan pentingnya zat besi
untuk mempertahankan konsentrasi belajar pada anak.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
Dalam proses belajar anak berupaya untuk
mengerti sesuatu hal baru. Memerlukan konsentrasi, memusatkan pikiran terhadap
suatu hal yang diperoleh selama proses belajar berlangsung. Apabila anak tidak
berkonsentrasi dalam belajar maka akan sulit menerima suatu informasi, dan juga
sebaliknya apabila anak dapat berkonsentrasi maka daya serap anak akan lebih
mudah dalam menangkap suatu informasi.
Menurut Fadila Suralaga dkk, konsentrasi
merupakan syarat mutlak dalam proses belajar. Manusia tidak akan mampu
mempelajari sesuatu kalau ia tidak berkonsentrasi untuk mendapatkannya.
Namun, terkadang anak sulit untuk dapat
berkonsentrasi karena ada berbagai penyebab
terganggunya konsentrasi pada anak, salah satunya ialah rasa lapar. Anak
dalam masa pertumbuhan memerlukan asupan gizi yang lebih banyak daripada orang
dewasa. Menurut
pendapat Ari Agung, (2002) Tanpa ada gizi, energi tidak bisa dihasilkan oleh tubuh,
dikarenakan sel-sel kita tidak memperoleh makanan. Dan tentu saja, seseorang
akan loyo dan merasa malas bekerja. Sekalipun seseorang memiliki kebiasaan
malas, namun kurangnya gizi merupakan penyebab utama.
Anemia merupakan berkurangnya simpanan gizi
zat besi yang disebabkan menurunnya kadar hemoglobin dalam tubuh. Karena itu
anemia didefisiensi pada anak-anak dapat menggangu kemampuan belajar mereka di sekolah.
Menurut Deddy Muchtadi (2001) fungsi utama zat besi bagi tubuh adalah membawa
oksigen dan karbondioksida dalam darah, serta untuk pembentukan darah (hemoglobin).
Fungsi
lainnya antara lain sebagai bagian dari enzim, untuk produksi antibodi, dan
untuk penghilangan (detoksifikasi) zat racun di dalam hati.
Kekurangan zat besi terutama
menyerang golongan rentan, seperti
anak-anak, remaja, ibu hamil,
serta pekerja berpenghasilan rendah. Secara
klasik defisiensi dikaitkan dengan
anemia gizi besi. Namun sejak 25 tahun terakhir banyak bukti menunjukkan
bahwa defisiensi besi berpengaruh
luas terhadap kemampuan belajar
dan produktivitas kerja
(Almatsier, 2002).
Dikatakan bahwa
pada kondisi anemia daya
konsentrasi dalam belajar tampak
menurun (Sediaoetama, 2010). Anemia karena
defisiensi zat besi pada
anak-anak akan mengganggu kemampuan belajar mereka
disekolah. (Gibney dkk, 2009). Kekurangan
zat besi pada
anak juga dapat menyebabkan penurunan nilai tes psikologi, tes
konsentrasi, mengurangi kemampuan
belajar konsep dan menurunkan daya ingat. Pada anak-anak kekurangan besi menimbulkan apatis,
mudah tersinggung,
menurunnya kemampuan untuk berkonsentrasi dan belajar (Almatsier,
2009).
Zat besi berperan dalam perkembangan
psikomotor anak. Kekurangan zat besi berpengaruh terhadap fungsi otak, terutama
terhadap fungsi sistem neurotransmitter (pengantar saraf), kerusakan struktur
myelin, dan mengurangi metabolisme energi di otak. Akibatnya, kepekaan reseptor
saraf dopamin berkurang yang dapat berakhir dengan hilangnya reseptor tersebut.
Daya konsentrasi, daya ingat dan kemampuan belajar terganggu, ambang batas rasa
sakit meningkat, fungsi kelenjar tiroid dan kemampuan mengatur suhu tubuh
menurun (Lozoff dan Youdim, 1988 dalam Almatsier, 2002). Kondisi tersebut
berkaitan dengan proses pengaktifan enzim Mono Amin Oksidase (MAO). Zat besi
(Fe) diperlukan sebagai kofaktor untuk mengaktifkan enzim Mono Amin Oksidse
(MAO) diotak yang berperan untuk daya konsentrasi.
Apabila zat besi dalam
tubuh tidak seimbang
atau kurang, maka kadar hemoglobin dalam darah akan berkurang
(Notoatmodjo, 2007). Semakin rendah
asupan zat besi,
semakin rendah juga kadar
hemoglobin dalam darah. Kadar hemoglobin normal adalah kurang
lebih 13,8 g/dL yang mencerminkan tidak akan terjadi anemia. Hal ini terjadi
jika konsumsi zat besi terpenuhi yang membuat
produksi sel darah merah
meningkat.
Kandungan zat besi dalam tubuh sangat
berguna untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak. Perlu diingat bahwa
kebutuhan zat besi anak juga berbeda-beda. Bisa dilihat dari umur dan juga
jenis kelamin anak.
Ambang batas kadar Hb pada zat besi yang
dikonsumsi anak adalah :
|
Tabel
1. Batasan normal kadar Hb |
|
|
Kelompok
Umur |
Hb |
|
Anak
6-59 bulan |
11
g/dL |
|
Anak
5-11 tahun |
11,5
g/dL |
|
Anak
12-14 tahun |
12
g/dL |
|
Wanita
umur > 15 th |
12
g/dL |
|
Wanita
hamil |
11
g/dL |
|
Laki-laki
umur >15 th |
13
g/dL |
Sumber
: WHO,2001
Bank dunia menyatakan
bahwa, anemia gizi besi
pada anak usia
sekolah menyebabkan hilangnya 5-10% prestasi
belajar. Penanggulangan anemia gizi
besi jangka pendek adalah dengan pemberian
suplementasi besi. Pemberian suplementasi
besi yang dikombinasikan dengan
vitamin A lebih efektif
dalam menaikkan kadar Hb.
Vitamin A berperan
dalam hemopoesis
(pembentukan sel darah merah).
Beberapa jenis makanan yang
mengandung zat besi :
|
Jenis Makanan |
Kandungan Zat Besi (mg) |
|
Kacang tanah : Terkelupas (dengan selaput) Rebus (dengan selaput) Sangan (tanpa selaput) Selai kacang Bungkil kacang tanah |
1,3 1,4 1,9 2 30,7 |
|
Kacang
Hijau |
6,7 |
|
Touge
Kacang Hijau |
0,8 |
|
Kedelai |
11 |
|
Tempe |
9 |
|
Tahu |
1,7 |
|
Kacang
Merah |
5 |
|
100gr
Asam Jawa |
2,8 |
|
Susu
Kedelai |
1,2 |
|
Susu
Sapi |
0,1 |
Sumber : Dalam buku Sehat Dengan Hidangan Kacang dan Biji-bijian karya Prof. Dr. Ir, Made Astawan, MS.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 Zat besi dan Konsentrasi
Belajar Anak
Anak sekolah berada pada masa
pertumbuhan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk menunjang
kehidupannya di masa depan. Guna mendukung keadaan tersebut, anak sekolah
memerlukan kondisi tubuh yang optimal dan bugar sehingga memerlukan status gizi
yang baik (Ditjen Bina Kesehatan Direktorat Gizi Masyarakat, 2011 dalam Taufiqurrahman,
2003). Mengingat kualitas pendidikan di Indonesia menduduki posisi paling
rendah dari 12 negara di Asia.
Faktor internal mempengaruhi kemampuan
siswa dalam belajar. Pada saat belajar otak melakukan serangkaian proses, yaitu
penangkapan signal materi, pemahaman dan penyaluran untuk merekam memori yang
baru saja terjadi. Dari serangkaian proses tersebut, menyangkut pada bagaimana
prestasi siswa dapat terbentuk.
Sadirman pada tahun 2007 mengungkapkan
bahwa prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai
siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu dengan
baik berupa perubahan tingkah laku, ketrampilan dan pengetahuan. Kemudian akan
diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka dan pernyataan.
Prestasi belajar siswa mempunyai
keterkaitan dengan konsumsi makanan sehat dan teratur untuk mendapatkan kadar
hemoglobin normal. Peningkatan pendidikan dapat mengubah pola hidup dan pola
makan, dari pola makan tradisional ke pola makanan praktis dan siap saji yang
dapat menimbulkan mutu gizi yang tidak seimbang (Sudjanah, 2002).
Hemoglobin adalah suatu senyawa protein
dengan besi (Fe) yang dinamakan konjugasi protein. Warna darah merah disebabkan
karena adanya besi (Fe). Oleh karena itu hemoglobin dinamakan juga zat warna
merah. Fungsi hemoglobin diantaranya mampu mengikat dan membawa oksigen dari
paru-paru ke seluruh jaringan tubuh, mengikat dan membawa karbohidrat dari
seluruh jaringan tubuh ke paru-paru, memberi warna merah pada darah, dan
mempertahankan keseimbangan asam-basa dari tubuh (Sadikin, 2006).
Pengaruh kekurangan besi (Fe) terutama
melalui kondisi gangguan fungsi hemoglobin yang merupakan alat transport O2
yang diperlukan banyak reaksi metabolisme tubuh. Dikatakan bahwa pada kondisi
anemia, daya konsentrasi belajar tampak menurun. Bukti yang tersedia
menunjukkan gangguan pada perkembangan mental dan kemampuan intelektual, serta
perubahan tingkah laku siswa.
Rendahnya kadar zat besi pada manusia
menyebabkan masalah kesehatan yang berdampak pada kualitas hidup seseorang.
Kejadian anemia pada siswa di sekolah dapat mempengaruhi prestasi belajar,
dengan diperkuat bahwa selama jam
pelajaran di kelas
siswa mengaku sering
tidak dapat konsentrasi belajar dan sering mengantuk. Siswa yang
mengalami anemia akan mengalami penurunan konsentrasi belajar sehingga
mempengaruhi nilai pelajaran di sekolah.
2.2 Penyebab Anak
Mengalami Kekurangan Zat Besi
Zat dalam tubuh terdiri dari dua
bagian, yaitu fungsional dan reverse (simpanan).
Zat besi yang fungsional sebagian besar adalah dalam bentuk hemoglobin (Hb),
sebagain kecil dalam bentuk myoglobin, dan jumlah yang sangat kecil adalah
adanya enzim dan non enzim. Bila tubuh kekurangan Fe, penyebaran Fe non enzim
dapat meningkat sepuluh kali dan penyebaran Fe enzim meningkat sampai dua kali
(Marizal, 2007).
Menurut Gibson tahun 2005 Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar Hemoglobin ialah :
1. Jenis Kelamin
Laki-laki memiliki kadar hemoglobin lebih tinggi daripada wanita, karena masa otot pria relatif lebih besar daripada wanita. Wanita mengalami menstruasi, hal ini menyebabkan banyak darah keluar dan menjadi faktor kadar hemoglobin lebih rendah.
2. Ketinggian daratan
Semakin tinggi daratan, semakin tinggi pula kadar hemoglobinnya. Sebab semakin tinggi dataran semakin rendah oksigen.
3. Trauma
Trauma dengan luka pendarahan akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar substrat maupun aktivitas enzim. Hal ini disebabkan karena terjadinya pemindahan cairan tubuh ke dalam pembuluh darah sehingga mengakibatkan terjadinya pengenceran darah, maka kadar hemoglobinnya turun.
4. Umur
Umur berpengaruh terhadap kadar dan aktivitas zat dalam darah.
5. Kehamilan
Penyebab perubahan kadar besi dan
feritin dapat disebabkan karena induksi oleh kehamilan, peningkatan protein
transport, hemodilusi, volume tubuh yang meningkat karena peningkatan kebutuhan
atau peningkatan protein fase akut.
Dengan begitu, dapat diketahui bahwa
anemia atau seseorang yang memiliki kadar hemoglobin rendah bukan hanya
disebabkan oleh konsumsi protein dan zat besi di dalam tubuh kurang namun juga
dipengaruhi oleh faktor lain dan zat penghambat absorbsi zat besi dalam tubuh,
maka kadar hemoglobin dalam darah juga berkurang.
3.3 Penerapan Zat Besi
untuk Mempertahankan Konsentrasi Belajar Anak
Dari penjelasan di atas, kita dapat
mengetahui bahwa zat besi sangat berguna untuk mempertahankan konsentrasi
belajar anak. Tapi hal yang harus diketahui pertama adalah bahwa kebutuhan zat
besi tiap anak berbeda-beda.
Ambang batas kadar Hb pada zat besi yang
dikonsumsi anak adalah :
|
Tabel
1. Batasan normal kadar Hb |
|
|
Kelompok
Umur |
Hb |
|
Anak
6-59 bulan |
11
g/dL |
|
Anak
5-11 tahun |
11,5
g/dL |
|
Anak
12-14 tahun |
12
g/dL |
|
Wanita
umur > 15 th |
12
g/dL |
|
Wanita
hamil |
11
g/dL |
|
Laki-laki
umur >15 th |
13
g/dL |
Sumber:
WHO, 2001
Dari analisis yang dilakukan oleh
WHO tahun 2001 dapat diketahui seberapa besar hemoglobin yang dibutuhkan
seseorang berdasarkan usia. Pemenuhan kadar hemoglobin di dalam tubuh dapat
diperoleh dengan cara mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, seperti :
|
Jenis Makanan |
Kandungan Zat Besi (mg) |
|
Kacang tanah : Terkelupas (dengan selaput) Rebus (dengan selaput) Sangan (tanpa selaput) Selai kacang Bungkil kacang tanah |
1,3 1,4 1,9 2 30,7 |
|
Kacang
Hijau |
6,7 |
|
Touge
Kacang Hijau |
0,8 |
|
Kedelai |
11 |
|
Tempe |
9 |
|
Tahu |
1,7 |
|
Kacang
Merah |
5 |
|
100gr
Asam Jawa |
2,8 |
|
Susu
Kedelai |
1,2 |
|
Susu
Sapi |
0,1 |
Sumber
: Dalam buku Sehat Dengan Hidangan Kacang
dan Biji-bijian karya Prof. Dr. Ir, Made Astawan, MS.
Tercukupinya kadar hemoglobin
membuat kadar zat besi dalam tubuh juga akan terpenuhi karena kadar hemoglobin
berbanding lurus dengan kadar zat besi. Jika kadar zat besi dalam tubuh
terpenuhi, maka konsentrasi belajar pada anak dapat dipertahankan.
Setelah mengetahui kadar Hb yang
diperlukan dan makanan apa saja yang mengandung kadar zat besi, menerapkan pola
makan yang seimbang dengan kadar zat besi yang cukup adalah langkah selanjutnya
untuk mempertahankan konsentrasi belajar anak.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan
terganggunya konsentrasi, seperti rasa kantuk dan lapar.
1.
Rasa kantuk
Saat belajar, rasa kantuk terjadi akibat kurangnya
oksigen pada otak yang berkaitan dengan kurangnya kadar Hb dalam darah. Hal ini
sering terjadi karena kurang mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat
besi tinggi seperti daging merah, ayam, telur, kacang-kacangan dan sayuran
hijau.
2.
Rasa lapar
Rasa lapar saat belajar di sekolah erat kaitannya dengan sarapan. Bagi anak sekolah meninggalkan sarapan membawa dampak buruk. Ir Satria mengungkapkan, Konsentrasi biasanya buyar karena tidak tercukupinya zat gizi. Akibatnya lambung akan mengalami kekosongnan 10-11 jam (dihitung dari saat ia tidur malam). Tak heran anak akan merasa sangat lapar saat jam 09.00-10.00, yang akhirnya kadar Hb dalam darah menurun dan anak akan hilang konsentrasi.
Dari
faktor-faktor diatas solusi yang tepat adalah sebelum sekolah biasakan anak
untuk sarapan. Menu sarapan untuk anak hendaknya diperhatikan kecukupan dan
keseimbangan gizinya (dr. Leane, M.Sc.). Usahakan sarapan dengan mengkonsumsi
makanan 4 sehat 5 sempurna. Dengan makanan yang engandung karbohidrat, pretin,
lemak, vitamin, dan mineral.
Salah satu mineral yang harus ada adalah zat
besi, yaitu dengan mengonnsumsi makanan yang terdiri dari sayur, daging merah
atau lauk dari kacang-kacangan seperti tempe dan tahu, serta selalu minum susu.
Dengan mengonsumsi makanan yang kaya zat besi pada saat sarapan, konsentrasi
belajar anak disekolah akan bertahan. Proses belajarpun tidak akan terganggu
dan prestasi belajar anak akan lebih baik.
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan paparan analisa masalah diatas, diperoleh beberapa kesimpulan yaitu
1. Rendahnya kadar zat besi pada anak akan mengakibatkan konsentrasi belajar anak menurun.
2. Zat besi banyak terkandung dalam hemoglobin. Dengan begitu, saat masa pertumbuhan anak seharusnya mempunyai kadar hemoglobin yang cukup sehingga kandungan zat besi pada anak akan cukup.
3. Untuk mencukupi kadar zat besi dalam tubuh, perlu mecukupi kadar hemoglobin dalam tubuh yaitu dengan mengonsumsi bahan makanan yang banyak mengandung banyalk zat besi.
4.2
Saran
Untuk mendapatkan respon yang optimal maka saran yang diberikan kepada masyarakat diantaranya
1. Meningkatkan kesadaran kepada masyarakat betapa pentingnya kadar hemoglobin di dalam zat besi bagi konsentrasi belajar anak.
2. Diharapkan orang tua berusaha memberikan asuapan gizi yang baik khususnya seperti memberikan sayur-sayuran, memberikan susu setiap hari agar anak tidak mengalami kekurangan zat besi yang memicu terjadinya anemia.
3. Dianjurkan menerapkan hidup sehat untuk mempertahankan kadar hemoglobin di dalam zat besi tetap terpenuhi secara normal dantidak mengganggu prestasi belajar anak.
DAFTAR
PUSTAKA
Agung,
I Gusti Ayu Ari. Pengaruh Perbaikan Gizi
Kesehatan Terhadap Produktivitas Kerja. Fakultas MIPA Universitas Hindu
Indonesia.
Sampouw,
Andreas.dkk. 2013. Hubungan antara Anemia
dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas 4 dan 5 SD Sta. Theresia Malalayang.
Universitas Sam Ratulangi.
Istianah.
2008. Hubungan antara Anemia dengan
Prestasi Belajar Siswakelas 4 Dan 5 Sd Sta. Theresia Malalayang.
Universitas Islam Negerisyarif Hidayatullah.
Widyastuti,
Agnes Putri. 2014. Hubungan Kadar
Hemoglobin Siswa dengan Prestasi Belajar Di Sekolah Dasar Negeri I Bentangan
Wonosari Kabupaten Klaten. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Mahmudiono,
Trias.dkk. 2010. Hubungan Makan Pagi dan
Tingkat Konsumsi Zat Gizi dengan Daya Konsentrasi Siswa Sekolah Dasar.
Universitas Airlangga Surabaya.
Astawan,
Made. 2009. Sehat Dengan Hidangan Kacang
dan Biji-bijian. Jakarta: Penebar Swadaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar